Menghindari Salmonella pada Daging Ayam

Bakteri salmonella merupakan salah satu momok dalam dunia bahan makanan. Tidak hanya ditemukan dalam protein dan sayuran, bahkan banyak kasus ditemukan di produk olahan daging, tak terkecuali pada daging ayam. Itu sebabnya bukan hanya peternakan, namun proses pemotongan di rumah potong ayam harus benar-benar diperhatikan.  Namun di Indonesia, sering sekali hal ini kurang diperhatikan. Masyarakat hanya fokus kepada efek samping sakit seperti diare, dan gangguan pencernaaan lainnya. Kondisi ini disebut dengan salmonella gastroenteritis. Pasien biasanya mengalami diare berdarah, kram perut dan demam. Diare bisa mengarah pada dehidrasi. Kasus yang parah dapat menyebabkan anemia, meskipun hal ini jarang terjadi. Demam mungkin sulit turun meski telah diobati dengan acetaminophen atau ibuprofen. Gejala kram perut juga bisa jadi sangat menyakitkan.


Salmonella juga bisa menyebar dalam aliran darah. Kondisi ini disebut salmonella bacteremia. Begitu ini terjadi, salmonella dapat memengaruhi beberapa sistem organ dalam tubuh, atau yang lebih dikenal dengan tifoid atau demam enterik. Gejala-gejala umumnya muncul secara bertahap. Gejala umumnya meliputi demam, sakit kepala, penurunan nafsu makan dan perubahan status mental, seperti lesu atau penurunan kesadaran. Pasien dengan demam tifoid mungkin merasakan nyeri perut yang parah, disertai pembesaran hati dan limpa. Demam biasanya memburuk dan menjadi lebih persisten. Tifoid juga bisa menyebabkan timbulnya bintik-bintik kemerahan pada kulit penderitanya.

Ketika telah menyebar dalam darah, salmonella dapat menyebabkan beberapa infeksi. Pada pasien dengan penyakit sel sabit, salmonella dapat menyebabkan osteomielitis, yaitu infeksi tulang yang ditandai dengan demam dan rasa nyeri ketika bergerak. Osteomielitis umumnya memengaruhi tulang panjang ekstremitas. Namun pada pasien sel sabit, salmonella dapat menyebabkan infeksi pada tulang manapun, termasuk vertebra dan pelvis.

Berikut ini ada beberapa tips untuk mencegah bakteri salemonella terutama pada ging ayam :

Berikut enam tips mengolah dan menyimpan daging ayam untuk menghindari infeksi bakteri Salmonella:

1. Daging ayam jangan dicuci.

Ahli keamanan pangan dari North Caroline State University, Ben Chapman mengatakan, mencuci daging ayam mentah akan menimbulkan cross-contamination. Cross-contamination adalah penyebaran bakteri ke bahan lain, misalnya dari daging ayam sebagai sumber Salmonella ke bahan pangan lain atau permukaan dapur.

Cara yang paling tepat menghindari serangan Salmonella adalah memasak daging ayam sebaik-baiknya. Pemasakan yang baik membunuh lebih efektif, dibanding mencuci yang justru menyebarkan bakteri.

2. Mencegah cross-contamination.
Cross-contamination bisa terjadi kapan saja, mulai dari menyentuh daging ayam di tempat belanja hingga saat pengolahan di dapur. Hal yang harus diperhatikan dalam cross-contamination adalah, cairan apapun yang keluar dari pembungkus daging ayam. Cairan yang keluar dari daging mentah berpotensi menyebarkan bakteri ke permukaan lain.
Saat di lokasi belanja pastikan daging ayam terbungkus sendiri dalam satu tas plastik. Hal ini memastikan daging ayam tidak mengontaminasi atau terkontaminasi bahan pangan lainnya.

Cairan yang keluar berpotensi menyebarkan bakteri melalui pisau, tangan, celemek, dan pojok dapur. Untuk meminimalisasi hal ini, pastikan untuk selalu memisahkan alat masak dan papan potong antara sayur dan daging. Selain itu, biasakan untuk selalu mencuci tangan sebelum dan setelah memasak

3. Ketahui perbedaan antara daging beku dan segar.
Ketika membeli daging ayam segar, biasanya daging terasa lembut dan dingin namun tidak beku. Menurut United States Department of Agriculture (USDA), daging segar berarti produk mentah tersebut tidak pernah ditempatkan dalam suhu lebih rendah dari minus 3,3 derajat Celsius.

Usai membeli daging segar pastikan segera memasukannya dalam lemari pendingin, tidak lebih dari 1-2 hari. Bila produk tidak segera digunakan sebaiknya secepatnya dibekukan dalam freezer. Ayam dan daging mentah bisa bertahan tanpa batas waktu dalam freezer. Bila sebagian sudah dimasak, sisa daging bisa disimpan dalam kulkas selama empat hari.

Dalam situsnya, USDA mengatakan bakteri bisa memperbanyak diri dalam suhu 4,4 sampai 60 derajat Celcius. Sehingga lebih lama daging disimpan dalam suhu ekstrem, misalnya dalam lemari pendingin, maka produk tersebut makin aman dikonsumsi.

4.  Cairkan dengan baik.

Daging yang beku bisa dicairkan dalam kulkas, atau ditempatkan dalam air dingin. Badan Food Safety and Inspection Service (FSIS) juga merekomendasikan microwave sebagai opsi untuk mencairkan daging. Chapman menyarankan, saat mencairkan ayam sebaiknya suhu (di luar suhu daging tersebut) tidak lebih dari lima derajat Celcius selama empat jam.

5. Masak dengan benar.

Tahap ini merupakan yang paling penting karena bisa membunuh semua bakteri yang terdapat dalam daging ayam. Cara paling tepat untuk mengecek apakah ayam sudah dimasak dengan baik adalah dengan menggunakan termometer.

Termometer dimasukkan dalam daging untuk mengetahui suhu dalam daging. Hal ini berlaku untuk semua teknik memasak, baik digoreng, dibakar, atau dipanggang. Suhu dalam daging ayam sebaiknya berkisar 73 derajat Celcius. Pengukuran harus dilakukan di beberapa tempat untuk meyakinkan konsistensi suhu. Pastikan ayam dimasak dengan baik pada suhu yang sesuai.

6. Hangatkan untuk kembali memperoleh suhu yang sesuai
Walaupun daging telah dimasak dalam suhu 73 derajat Celcius, sangat penting untuk memastikan ayam tetap dalam suhu tersebut keesokan hari. Saat menghangatkan ayam, sebaiknya tetap gunakan temperatur. Hal ini untuk memastikan seluruh bagian ayam telah mengalami pemanasan.

Sumber :
medicalldailly[dot]com
sehatfresh[dot]com